Hello ^^

Apa yang saya tulis semuanya berasal dari hati dan pikiran.
Apa yang saya tulis tidaklah selalu 'saya' dan apa yang anda baca tidaklah selalu 'anda' :)

Wednesday, 20 August 2014

BENTENG PERTAHANAN KAMI

Terpaku, menatap huruf-huruf ataupun angka-angka di hadapanku. Berfikir, apa yang seharusnya aku lakukan? Menahan setiap butir airmata yang hendak menerobos kelopak mataku. Sampai perih terasa hanya untuk menahannya. Terlalu banyak yang berputar dipikiranku, namun tidak satupun ada yang bisa aku selesaikan, satu persatu, atau bahkan sekaligus. Kini tulisanku mulai aneh. Karena aku tidak tahu harus membawa kemana topik pembicaraan ini. Namun, tulisan-tulisan ini adalah temanku saat ini. Disaat tidak satupun manusia didunia ini yang mengerti apa yang aku butuhkan, disaat semua orang-orang yang kupercaya tidak berada disisiku lagi, disaat orang yang paling kucintai memilih untuk menelantarkan aku. Kepada siapa aku harus beradu keluh dan kesahku? Tuhan? Hanya Dia-lah satu-satunya pilihan terakhirku. Namun belum akan aku gunakan kesempatan itu. Karena aku tidak terlalu suci untuk meminta-minta pada-Nya. Aku hanya kumpulan debu yang mengotori dunia ini. Aku malu jika harus menghadap Tuhan-ku dengan keadaanku yang seperti ini. Tulisan ini, kurang ataupun lebih nya dapat membantu meringankan berat bebanku. Terimakasih.
Beberapa hari ini, aku terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaanku. Teman-temanku, datang mengunjungiku kemudian mengajakku mencari udara segar di beberapa sudut kota ini, namun tak satupun ajakan mereka yang aku terima. Aku lebih menikmati kesendirianku. Walaupun ini rasanya sangatlah SEPI, tapi aku SUKA. Ketika aku bisa bebas membiarkan kamarku dengan semua barang-barang yang berserakan didalamnya seperti menciptakan keadaan pikiranku. Ketika aku bisa bebas menangis tanpa satu manusiapun dapat mendengar tangisanku, seperti mengutarakan isi hati yang selalu berontak ingin dikeluarkan. Ketika aku bisa bebas memiliki zona merokokku, entah berapa bungkus rokok yang ku habiskan untuk menemaniku seminggu ini, dan beberapa kaleng minuman penghangat versi anak-anak muda yang frustasi (red: Beer). Setidaknya, ketika suasana dingin mulai menyelimutiku, aku bisa mendapatkan kehangatan darinya. Sampai akhirnya aku menemukan kewarasanku kembali, tepat dihadapan monitor komputer, dan menulis kisah ini :

Baginya, aku adalah wanita karir yang sukses. Dengan penghasilan yang lebih dari cukup. Cukup untuk membiayaiku di perantauan, bahkan juga untuk mengirimi Ibu dikampung. Sesungguhnya bukan ini pokok permasalahannya. Augustus Setterfield, adalah pacarku, sudah 5tahun kami berpacaran. Namun kami belum juga menikah, karena ... kami mungkin belum berjodoh tahun ini. Itu pemikiranku. Tapi baginya, akan ada pernikahan setelah dia mampu mendapatkan pekerjaan yang memiliki penghasilah lebih besar dari yang aku dapatkan, saat ini. Sempat terpikir olehku, untuk berhenti bekerja di perusahaan terbesar di negara yang kutinggali ini. Namun, aku masih memiliki tanggung jawab membayarkan kuliah dari ketiga adikku. Cukup pilihan yang sulit untuk seorang wanita sepertiku. Oke, bukan cukup. Namun sangat menjadi beban untuk memilih salah satu dari kedua hal yang menjadi pegangan hidupku. Cinta dan Uang. Berbulan-bulan aku diberi gangguang hanya untuk memilih, sejujurnya bukan Augustus yang memintaku untuk memilih, hanya saja bisakah kau bayangkan, diumurku yang menginjak 28 aku belum menikah? Orangtuaku, Sahabatku, Keluarga besarku, Tetanggaku, Bosku, bahkan Ibu-ibu kafetaria tempat aku biasa menghabiskan waktu untuk makan siangku selalu menanyakan "Kapan MENIKAH?" Bisa kalian rasakan, bagaimana rasanya hatiku berdetak? mataku menahan air mata? dan bibirku terpaksa untuk melukiskan senyuman?.
Aku berusa untuk mencari jalan keluar untuk hal ini. Berbagai cara aku lakukan untuk meyakinkan, bahwa aku bisa menjadi wanita yang bertanggung jawab dalam mengurusi Rumah Tangga, dan tidak menjadi Tulang punggung di keluarga kami nantinya. Namun Pelukis yang aku cintai tetap belum berniat untuk menikahiku. Mungkin beberapa diantara kalian menyarankan ku untuk mencari pria lain. Teman-temanku berulangkali mempertemukan aku dengan pria single mapan, namun tak satupun yang bisa mengalihkan rasa cintaku untuk pelukis itu. (red : Augustus Setterfield).
Aku memiliki cita-cita untuk menikah saat umur 23tahun, namun umur tersebut lewat begitu saja. Setidaknya, walaupun tidak mendapatkan calon suami, aku mendapatkan Augustus sebagai pacarku.
Izinkan aku sedikit menceritakan siapa itu Augustus Setterfield.
Dia adalah pria berumur 29 tahun, yap hanya lebih tua setahun dariku. Dia lulusan salah satu Institute Seni terbaik di kota ini. Kami bertemu saat sama-sama berada dibangku SMA. Kemudian kami resmi berpacaran saat kami tidak sengaja bertemu di kota perantauan ini. Kami bertemu disaat aku ditinggalkan oleh mantan pacarku. Mungkin lebih tepatnya dicampakan. Saat itu, dia membantuku bangkit, menjadi sahabat yang selalu memaniku ketika keterpurukan menyelimuti malam-malamku. Selalu menjadi pria pertama yang mengetahui kabar gembira dariku, ataupun ketika ada kabar yang membuatku sedih. Teman yang menemaniku membangun karir didunia pekerjaanku sampai aku bisa menjadi seperti sekarang. Namun, kelemahannya adalah selain mencintaiku, dia juga sangat mencintai SENI. Terkadang aku merasa cemburu, bila dia harus memilih untuk menyelesaikan inspirasi yang dia dapat dari pikirannya untuk dituangkan dalam sebuah kanfas daripada menemaniku dikala aku sedang sakit. Jika aku dan seni harus berada diposisi yang sama, aku merasa sangat sedih, karena dia pasti lebih memilih berkarya terlebih dahulu dibanding mengurusiku. Mungkin jika sakitku adalah sakit yang terbilang parah, baru dia akan memilihku untuk menjadi yang terpenting saat itu Tapi haruskah aku memiliki sakit parah terlebihdulu, untuk menjadi yang pertama baginya?
Awal kami membina hubungan, aku selalu nyaman dibuatnya. Tidak pernah sekalipun dia membuatku khawatir dia akan mencampakanku seperti yang mantanku lakukan. Namun ... menginjak tahun ke lima ini, dia mulai berbeda. Mulai sering berbeda pendapat denganku, jarang menghubungiku duluan, tidak pernah berbagi cerita lagi denganku, jarang memiliki waktu untuk bisa ku telepon. semakin menyibukkan diri dengan karyanya, padahal tidak ada pameran yang sedang menjadi deatline miliknya. Awalnya aku pikir dia mulai tertarik dengan wanita lain. Tapi dugaanku salah, setelah kami sempat bertengkar hebat. Aku menyadari satu hal, dia tidak pernah tertarik pada wanita lain, selain diriku. Kelebihan miliknya yang sangat aku kagumi adalah ke-SETIA-annya.

** to be continued **